Desain Amplifier untuk Masjid dan Mushola Seharusnya Bagaimana?

Desain Amplifier untuk Masjid dan Mushola Seharusnya Bagaimana?

Soldiradem blog -  Di blog ini saya hanya menulis apa yang saya tahu dan kadang ingin mengutarakan semua tentang keresahan secara pribadi bukan semata-mata kebutuhan materi elektronika secara baik dan benar. Dalam kata lain boleh dong mengutarakan tentang pendapat di media blog sendiri. hehehe. 

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengutarakan tentang amplifier rakitan untuk masjid dan mushola. Yang menjadi keresahan ialah pengalaman pengguna di masyarakat secara umum kadang dibuat bingung oleh desain interface pada fungsional panel. 

Mungkin interface banyak panel kontrol itu nampak lebih canggih dan terkesan lebih unggul. Mungkin kita yang terbiasa di dunia audio akan mahir mengontrol, namun nyatanya untuk pengguna orang umum lebih mengutamakan kesederhanaan dalam penggunaan. 

Tentu ini menjadi perhatian bagi perakit amplifier yang dikhususkan untuk sebuah masjid dan mushola. Amplifier pesanan akan sangat bisa mengkondisikan situasi instalasi dan kebutuhan. Karena pada umumnya amplifier ini akan digunakan pada mode instalasi tetap. Pesanan khusus biasanya akan disesuaikan dengan kondisi. apakah kebutuhan untuk masjid besar atau hanya mushola kecil. Karena kedua jenis ini sangat berbeda secara kebutuhan. Masjid besar biasanya akan lebih fleksibel untuk digunakan berbagai acara bukan hanya harian saja. Sedangkan untuk desain ampli toa secara fungsi mungkin hanya untuk aktivitas harian biasa. 

Amplifier untuk Mushola 

Karena biasanya hanya untuk keperluan harian tidak acara pengajian, bisa jadi desain contoh paling baik dengan desain sangat simple adalah amplifier TOA build up. Amplifier toa sangat mudah dimengerti hanya menyediakan volume sebgai panel fungsi. Dengan desain sederhana tapi memiliki kualitas yang luar biasa. Dan ini bisa menjadi pola dasar sebagai prototipe pembuatan amplifier rakitan untuk corong TOA yang kita kehendaki. 

Amplifier untuk Masjid Besar 

Dengan desain yang komplek memenuhi kebutuhan audio sistem masjid biasanya lebih banyak untuk suplay speaker bawah. Ini biasanya untuk masjid yang memiliki area luas sehingga tidak hanya membutuhkan satu amplifier. Bahkan butuh operator khusus untuk mengelola masjid luas dalam hal audio. Sehingga tidak mutlak untuk desain lebih komplek tidak ada masalah dengan pengalaman pengguna. Pengalaman pengguna biasanya akan dimudahkan jika instalasi kustom terima jadi bukan hanya pada amplifier rakitan. Mudahnya bisa satu saklar saja bisa menyala tanpa harus setting ulang. 

Berarti kita hanya akan membahas desain untuk amplifier sederhana mudah digunakan untuk kebutuhan mushola kecil yang biasanya identik dengan amplifier rakitan. 

Dengan menetapkan range frekuensi paten bisa dimaksimalkan. Ini membutuhkan percobaan dan alat ukur respon frekuensi agar tenaga yang dikeluarkan oleh amplifier lebih maksimal pada frekuensi yang lebih sempit. Dengan penetapan range frekuensi lebih sempit bisa memaksimalkan dan mengamankan kerja speaker. Hal yang meski kita kenali adalah range vokal yang cocok dengan frekuensi horn maupun speaker bawah. Mungkin dengan menggunakan crossover aktif secara paten yang telah disetting di dalam mesin bisa lebih memudahkan jika menghendaki desain yang sederhana. Atau bisa juga membagi antara amplifier untuk speaker bawah dan horn dengan desain terpisah tapi tetap dalam satu box. Ini jauh lebih mudah untuk mengatur range frekuensi yang dikehendaki. Jika terpaksa jadi satu amplifier dan control frekuensi mungkin akan lebih komplek dalam perakitan. 

Keamanan sangat diutamakan dalam amplifier rakitan. Meskipun rakitannya sederhana tapi keamanan tetap harus diutamakan. Tidak sekedar jadi. Karena berdasar pada kejadia, ada amplifier membahayakan pengguna. Satu waktu saya pernah menangani sebuah amplifier yang kata takmir dan pengguna yang lain pernah tersetrum mix dari amplifier. Ternyata setelah diselidiki ada kabel dibagian input AC220v solderan terlepas sehingga menyentuh body amplifier. sontak yang membawa mix dalam acara pengajian langsung tersengat listrik untungnya mereka sigap langsung melempar. 

Inilah yang membuat saya sampai sekarang ingat betul, ketika merakit pada bagian power suplay amplifier tidak asal sambung terutama pada bagian AC220. setidaknya dalam penyolderan pastikan kabel diikatkan bukan hanya ditempelkan terutama pada bagian saklar dan juga trafo. Kemudian memastikan bahwa solderan benar benar matang. Keretakan pada bagian vital ini bisa memicu percikan api jika solderan tidak matang. Hal ini karena saklar ini dinyalakan beberapa kali dalam sehari. Begitupun kualitas saklar yang seharusnya tidak sembarang dalam memilih untuk aktivitas tinggi di masjid maupun mushola. 

Perhatian saya tertuju pada sebuah bok amplifier yang terkesan murah dan tipis sehingga ketika amplifier diangkat fleksibel tidak stabil juga terkait dengan keamanan. Misalnya pada saat amplifier kondisi menyala diangkat box besi bisa saja menyentuh pada bagian solderan saklar maupun trafo bisa memicu konsleting dan membahayakan pengguna. 

Ini sedikit perhatian saya dari dari sudut pandang sebagai pengguna juga sebagai perakit. Meskipun sekarang jarang menerima job untuk rakit amplifier, saya masih gemar dengan dunia elektronika terutama perihal rakit merakit komponen audio dan yang lainnya. Demikian semoga bermanfaat!!!

Muhlisun TMG
Muhlisun TMG Saya memiliki pengalaman dan hobi di bidang elektronika terutama dalam memperbaiki TV, peralatan audio, dan parabola. Selain memperbaiki, saya juga suka merakit dan bereksperimen. Saya telah terjun di dunia elektronik sejak tahun 2014 hingga sekarang. Saya menulis pengalaman saya melalui blog di www.soldiradem.com sejak 2016.

Posting Komentar untuk "Desain Amplifier untuk Masjid dan Mushola Seharusnya Bagaimana? "